CERPEN ! Desa Boko Harjo KKL 3

Minggu, 30 januari 2012 adalah hari dimana Kuliah Kerja Lapangan Ke-3 memasuki ring tempur. KKL yang ke-3 ini mengambil lokasi disebuah desa yang tidak jauh dari Candi prambanan Yogyakarta. Desa ini disebut dengan Desa Bokoharjo, konon mitosnya Desa ini dahulunya adalah tempat pemeluk agama hindu dan budha menjalankan runtinitasnya. Semua ini ditandai dengan keadaan geografis Desa Bokoharjo ini, kebanyakan terdapat candi-candi peninggalan kerajaan zaman dahulu yang bercorak hindu – budha.

 DESA BOKOHARJO
kkl 3. Dok pribadi masa masa terindah 
di desa boko with my fren
 Kuliah Kerja lapangan kali ini sangat berbeda dengan Kuliah Kerja Lapangan sebelumnya yang berlokasi di Dataran Tinggi Dieng dan Daerah Demak, sampai ke daerah Bali. KKL kali ini lebih menekankan pada praktik dari apa yang sudah dijarakan kepada kami selama perkuliahan, terjun langsung ke Masyarakat serta berbaur menjalani rutinitas hidup selama 6 hari. Dalam proses KKL ini pertama kali kami ditempatkan pada sebuah keluarga yang berda di Desa Bokoharjo, dan pada saat itu saya sendiri “ Daniar Murdi dari pendidikan IPS B 2009” Mendapatkan rumah baru, tempat tidur baru, suasana baru, pekerjaan baru serta Keluarga Baru juga. Suasana hari pertama begitu berbeda, dalam keluarga ini saya ditempatkan beserta Empat teman lainya yang berasal dari Pendidikan IPS juga.

          Hidup baru pun mulai kami rasakan, dengan suasana yang serba baru. Keluarga kami ini terdiri dari Ayah yaitu Pak Suparman, Ibu, dan Dua Orang anak, yakni Nuri dan Rifan serta Nenek. Ayah kami berfrofesi sebagai Security di Candi Prambanan dan Ibu kami keseharianya membantu memberi pakan ternak dan Menjadi Ibu Rumah tangga, Kemudia Adik kami Nuri masih duduk dibangku Sekolah Dasar,sedangkan kakanya Rifan sedang berjuang menuju bangku kuliah maksudnya masih kelas Tiga di SMK penerbangan dan dalam waktu dekat ini akan menjalani Ujian Nasional, semoga jalan mu lancar dek,, aminn….!!

          Dalam Cerpen ini saya akan membagi kisah pada kita semua, semoga dapat memberikan manfaat yang diinginkan penulis dalam kisah ini. Supaya isi Cerpen ini tidak keliahatan membosankan, maka saya akan membagi sekmen demi sekmen dalam kisah Kuliah Kerja Lapangan Bag 3 ini. Untuk Lebih lanjutnya mari kita berbagi Cerita Since demi Since, semoga ada Barokahnya.

Kehidupan Hari Pertama di Keluarga Pak Suparman
Suasana Kehidupan, yah itulah yang bisa saya tuangkan dalam cerpen ini karena dalam perjalanan sampai menapaki kaki dan melegakan tenggorokan di Rumah kami yang Baru. Something big difrent, saya lebih senang menyebutnya demikian. Kehidupan yang semula menjadi anak kos-kosan yang bebas dan kini sudah merasa dirumah sendiri dengan sosok bapak/ibu yang berbeda pula, ada rasa canggung dan malu, semua rasa terasa melebur jadi satu dan ini tidak berlangsung dalam hitungan jam, namun hari bahkan satu minggu. Pendekatan mulai kami lakukan, dimulai dengan perkenalan, kemudia ngobrol ringan sampai pada membicarakan pekerjaan yang akan kita lakukan hari esoknya.

Jujur saya katakana keluarga ini sangat baik dan perhatian pada kami semua, kehidupan disini yang semula untuk bekerja dan melebur dengan rutintias mereka, malah terkdang kami dimanjakan dan dilayani bak raja dan ratu semalam. Hari pertama kelompok saya yang terdiri dari saya sendiri, Tika, valen, Alin dan Septi merasakan miskin rutinitas. Ketika diserahkan kepada keluarga pak Parman siang itu kami langsung disuruh istirahat di tempat tidur untuk mengambil nafas dan menunggu kegitana keesokan harinya.

Susana Hari ke dua
Memasuki hari berikutnya hari dimana rutinitas keluarga pak Parman akan kami laksanakan lebih tepatnya ikut merasakan apa yang mereka kerjakan. Malam telah berlalu pagi mulai menampakkan kesegaranya trdengar hingar binger suara piring dan suara penggorengan dari balik tembok, rutinitas hari ini dimulai dari jam 5 pagi. Belokasi didapur Rumah ini suara itu santer terdengar, membuat mata ini mulai terbangun dan membereskan temat tidur, saya yang satu ranjang bersama Alin sudah dibangunkan oleh saudari Tika yang kelihatan lebih dahulu bangun dari pada saya. Tika bersama valen dan septi nampaknya membantu Ibu memasak didapur, Susana rumah termat sepi yang absen kehadiran Pak Parman. Bapak kami adalah sosok lelaki tengguh, beliau berangkat kerja dari sore sampai pagi hari baru balik rumah.

Pukul 07.15 Wib sarapan pagi sudah siap, selesai sarapan bapak kami pulang dengan Motor buntutnya Green keluaran taun 90-an namun Kualitas masih top markotop. Pagi ini Rutinitas kami mulai berjalan, mulai dari membersihkan kandang sapai, maklum saja keluarga kami memiliki 3 Ekor sapi yang satunya lagi hamil 5 bulan. Saatnya memberihkan sekitar areal kandang, setelah kandang sapi kami bersih, hari sudah mulai siang waktu itu. Istirahat sebentar, ujar si Bapak. Setelah istirat beberapa Menit Pak Parman menegur kami.
Pak parman: kalian pernah mandiin sapi gak ?
Kami serentak mejawab belum pak ..
Baiklah kalau mau ikut mandiin sapi, ayookk ?? sahut pak parman.

Dengan kompaknya kami menjawab ajakan Pak Parman. Pada awalnya kami diajak mengeluarkan sapi dari kandangnya, ketakuatan adalah ekspresi perdana kami, karena si sapi rada-rada meberontak mungkin melihat kehdiran 5 Orang asing disampingnya . Setelah sapi keluar dari kandang, saatnya menyeret sapi ketempat pemandian. Langkah kami mulai mengikuti langkah pak Parman didepan , saya dipasrahkan sama bapak untuk menyeret sapi, terkadang bergantian sama Saudara Alin, sedang kawan kami yang cewek membawa peralatan yang berupa sikat,

Perjalanan menuju tempat pemandian sapi berjarak sekitar 500 M dan memuncak ke datran tinggi diseberang sana, lumyan jauh juga, tapi menyenangkan. Tibalah disebuah sendang, disebuah kolam kecil berukuran 5 X 7 M. disinilah tempat biasanya sapi-sapi ini mandi membersihkan badanya, dan melonggorkan bagian-bagian tubuh yang kaku yang kebanyakan waktunya habis tidur dan makan dikandang. Seketika Satu demi satu sapi dibawa masuk ke kolam oleh bapak kami, dan daya tampung kolam ini, tidak muat untuk sekaligus tiga ekor sapi. Diikatnyalah satu ekor sapi yang betina, dan dua yang jantan kini sudah memasuki area pemandiaan.

Dengan sigapnya Pak Parman masuk bersama sapi-sapi itu, 3 Menit berselang saya bersama Alin mengikuti jejak bapak kami, ikut membaur bersama sapi-sapi dalam satu kolam, lengkap dengan kotoran dan air kencing sang sapi. Disebal kiri dan atas kanan kolam, kelihatan raut muka teman-teman cewek saya mulai mengkerut sembari mencari dedaunan yang bisa dimakan oleh sapi ini. Sesi pengabadian tidak lupa juga kami lakukakan, fotografer mb.tika mengambil momen-momen dimana Saya dan Alin membersihkan punggung si Sapi dengan alat pembersih yang biasa digunakan oleh bapak kami.

Hari muali siang, berakhirlah rutinitas mebersihkan sapi hari ini, saatnya mengiring sapi menuju kandangnya kembali. Sebelum menuju kandang, bapak biasanya mebiarkan sapi-sapi ini mencari makan diatas terlebih dahulu, karena diatas banyak sekali dedaunan hijau yang bisa dimakan. Sembari menunggu sapi makan diatas, kami diajak oleh bapak Turun dan mebersihkan kotoran sapi yang sudah mulai menggunung dikandangnya. Sudah Tercebur kolam, kotor-kotran ya sekalian saja kita masuk ke kandang si sapi. Bau itu sudah wajar namnya juga kotoran, namun semunya kami lakukan demi sebuah pengabdian kepada keluarga kami, sekitar setengah jam membersihkan kotoran sapi sampai kandanganya bersih.

Melihat pekerjaan Anak-anaknya hari ini, kelihatan raut kepuasaan dari bapak kami, alhamdulilah yah ??Memasuki waktu shalat dzuhur kami disiruh istirahat dan makan siang, langkah saya mulai menuju kamar mandi yang berada di Boko resto, kamar mandi inilah yang membersihkan badan saya selama disini, disamping kamar mandi ada Musholla tempat shalat dan di pelataran depan tampak pemndangan yang indah, dari gazebo ini kita bisa melihat candi prambanan dan daereah-daerah dibawah sana. Sungguh indah, pemdangan yang menakjubbkan, apalagi malam hari, Susana seperti ini menjadi momok yang mebuat hati ini betah di Rumah Pak Parman.