Tobatnya Sang Pelacur

Sore ini terasa sangat berbeda badankku terasa sangat letih dan tidurku begitu lelap sekali. Entahlah mungkin karena malam ini aku harus mengulangi rutinitas yang tidak sewajaranya sebagai wanita penjaja seks di kota ini. Tidak ada alasan yang jelas kenapa aku mulai terjerumus dalam lembah hitam prostitusi, jika ada yang mengatakan dengan motif ekonomi toh keluarga ku orang kaya. 

Satu alasan yang membuat saya terjerumus dalam lembah hina ini tidak lain hanya sebuah deraian air mata waktu itu. Genap memasuki smester 2 dibangku kuliah keperawanan ku sudah direnggut sama lelaki yang berjanji akan selalu ada disampingku sampai maut memisahkan kita. Namun apa mau dikata, setelah puas meikmati tubuh ku dia menghilang bak ditelan bumi.

Hidup sendiri dengan perasaan hancur yang tidak terkendali menyebabkan saya pasrah akan sebuah harga diri. Tapi jangan salah, saya pelacur kelas tinggi tarif juta-an sekali ML. Yah..maau gimana lagi beda paras beda harga, beda sensasi beda penawaran. 

Tidak terasa sudah genap 2 tahun saya menjalani profesi pelacur kelas atas, uang yang saya dapatkan habis buat poya-poya dan party. Syurga dunia begitu terasa akhirat entah dimana mungkin sudah hilang dalam ingatan batinku. 

Ternyata hari ini semuanya berubah, teman-teman pelacur saya makin hari makin bertambah, sedangkan umur saya makin hari makin berkurang.Kecantikan, kemolekan dua tahun silam sedikit demi sedikit mulai pudar, sudah muncul beberapa krutan dibagaian wajah meskipun sekali seminggu saya pergi buat perawatan. 

Kondisi ini sangat berpengaruh besar dalam diri saya telebih bagi para peria hidung belang. Dahulunya semalam bisa melayani 5 orang sekarang satupun sudah jarang. Disininalah pergolakan batin dalam diriku muncul, ternyata eksis menjadi pelacur itu tidak mudah, satu hal terberat adalah faktor umur. Sekarang para peria hidung belang sudah enggan menikamti tubuh ini, mungkin mereka sudah bosan atau lebih tertarik sama yang lebih muda dan segar. 

Cukup sudah penderitaan ku tahun ini, awal pederitaan yang disebabkan gaya berpacaran dan gampangnya menyerahkan haraga diri buat peria ternyata memberikan imbas kehancuran masa depan yang permanen. 

Semoga cerpen ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua. Keprawanan memang tidak terlihat dari sisi fisik namun dari sisi budaya, agama akan mendatangkan tekanan mental yang sangat besar apabila terenggut bukan pada masanya dan pada konsep yang sebenarnya.