Rabu, 21 Agustus 2013

Tobatnya Sang Pelacur

Sore ini terasa sangat berbeda badankku terasa sangat letih dan tidurku begitu lelap sekali. Entahlah mungkin karena malam ini aku harus mengulangi rutinitas yang tidak sewajaranya sebagai wanita penjaja seks di kota ini. Tidak ada alasan yang jelas kenapa aku mulai terjerumus dalam lembah hitam prostitusi, jika ada yang mengatakan dengan motif ekonomi toh keluarga ku orang kaya. 

Satu alasan yang membuat saya terjerumus dalam lembah hina ini tidak lain hanya sebuah deraian air mata waktu itu. Genap memasuki smester 2 dibangku kuliah keperawanan ku sudah direnggut sama lelaki yang berjanji akan selalu ada disampingku sampai maut memisahkan kita. Namun apa mau dikata, setelah puas meikmati tubuh ku dia menghilang bak ditelan bumi.

Hidup sendiri dengan perasaan hancur yang tidak terkendali menyebabkan saya pasrah akan sebuah harga diri. Tapi jangan salah, saya pelacur kelas tinggi tarif juta-an sekali ML. Yah..maau gimana lagi beda paras beda harga, beda sensasi beda penawaran. 

Tidak terasa sudah genap 2 tahun saya menjalani profesi pelacur kelas atas, uang yang saya dapatkan habis buat poya-poya dan party. Syurga dunia begitu terasa akhirat entah dimana mungkin sudah hilang dalam ingatan batinku. 

Ternyata hari ini semuanya berubah, teman-teman pelacur saya makin hari makin bertambah, sedangkan umur saya makin hari makin berkurang.Kecantikan, kemolekan dua tahun silam sedikit demi sedikit mulai pudar, sudah muncul beberapa krutan dibagaian wajah meskipun sekali seminggu saya pergi buat perawatan. 

Kondisi ini sangat berpengaruh besar dalam diri saya telebih bagi para peria hidung belang. Dahulunya semalam bisa melayani 5 orang sekarang satupun sudah jarang. Disininalah pergolakan batin dalam diriku muncul, ternyata eksis menjadi pelacur itu tidak mudah, satu hal terberat adalah faktor umur. Sekarang para peria hidung belang sudah enggan menikamti tubuh ini, mungkin mereka sudah bosan atau lebih tertarik sama yang lebih muda dan segar. 

Cukup sudah penderitaan ku tahun ini, awal pederitaan yang disebabkan gaya berpacaran dan gampangnya menyerahkan haraga diri buat peria ternyata memberikan imbas kehancuran masa depan yang permanen. 

Semoga cerpen ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua. Keprawanan memang tidak terlihat dari sisi fisik namun dari sisi budaya, agama akan mendatangkan tekanan mental yang sangat besar apabila terenggut bukan pada masanya dan pada konsep yang sebenarnya. 

Read More

Senin, 05 Agustus 2013

Gara-Gara Kostum Manusia Terlihat Nista

Memang tabiat manusia dari sononya kali ya, melihat kumpulan orang yang tidak menggunkan baju dalam koridor iman yang dianggap benar menjadi bahan ejekan dan gunjingan yang menggiurkan. Manusia hidup dengan naluri dan kebebasan opini yang tidak terkontrol, mudah terpropokasi dengan cara dan sudut pandangnya.

Ini adalah contoh gambar  yang bisa menggiring opini kebanyakan manusia dari model berpakaian, anda akan dinilai santun jika gaya pakaian anda sopan, sebaliknya akan dinilai hina jika model pakaian anda ala kadarnya. Lebih parah lagi anda akan dicap jelek meskipun pakaian anda sopan namun berada dalam lingkaran wanita seksy seperti gambar ini.


Bayangkan saja dari gambar  diatas akan terbentuk bermacam-macam opini yang menyudutkan lelaki yang berada ditengah-tengah wanita yang berpakaian serba mini. Namun jika lelaki itu berada dikelilingi wanita yang mengenakan hijab misalnya maka ceritanya akan berbeda.

Sebenarnya ini tidak lepas dari cara pandang kita terhadap sebuah situasi yang ada didepan mata, apakah kita melihat dengan telanjang bulat kemudian melontarkan kata-kata kotor atau kita berpikir dengan second opinion bahwa lelaki itu bisa saja sedang memberikan siraman rohani agar para gadis itu taubat.

Banyak situasi-situasi yang memungkinkan kita bisa berpikir postif tanpa harus mencela dan memaki, terkadang kita terlalu cepat mengambil sebuah kesimpulan tanpa menyadari ada otak yang belum digunakan dalam berpikir lebih luas lagi.

Semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat bagi kaum hawa dalam menjaga harkat dan martabatnya dalam konteks dialketika manusia. Dialektika selalu hadir ketika aksi dan reaksi yang terlihar berbeda, sadar akan hal ini maka mulailah belajar dalam menyesuaikan diri anda.
Gunakan gaun mini pada tempatnya, maka hidup anda akan terasa aman dari gunjingan. Seandainya pun anda ditakdirkan menjadi malaikat penguji iman setan maka tawadhu lah dalam ketetapan itu sampai harkat dan martabat dalam sudut pandang mata telanjang sudah tidak berguna lagi.

Salam…
Read More